IMAJINASI POLITIK

IMAJINASI POLTIK 

“Tanpa imajinasi, kita kalah…” Demikian cuitan Budiman Soedjatmiko di media sosial. Budiman adalah aktivis yang kemudian menjadi politisi. Bukan perjalanan karir yang janggal untuk seorang ketua partai terlarang di masa Orde Baru. Karena itu, saya ingin menafsirkan ‘imajinasi’ dalam cuitan itu sebagai imajinasi politik.

Imajinasi politik jelas bukan berkhayal dalam kerangka teori konspirasi tapi bentuk tertinggi dari kesadaran sejarah. Saya menyebut itu sebagai persetujuan atas usulan Ariel Heryanto bahwa untuk jadi politisi yang cerdas kita “hanya perlu” belajar sejarah. Terutama, tentunya, sejarah politik Indonesia.

Dengan usulan itu, Ariel sesungguhnya ingin menunjukkan pada kita kerangka yang sudah semestinya dari pertarungan dan pertaruhan kita dalam politik. Apa ideologi, gagasan, dan kepentingan yang selama ini bermain dan ke mana kita akan dibawanya? Siapa kita sebagai bangsa, kemarin, hari ini, dan esok?

Sejarah bukan semata masa lalu tapi kekinian yang ditemukan dari masa lalu dan masa depan yang bisa digariskan seturut itu. Pertama, kita tidak bisa menjelaskan apa yang kini tanpa memahami apa yang lalu. Kedua, kita tidak bisa melangkah ke masa depan tanpa memahami yang kini dari masa lalu itu.

Tak ada teror yang lebih menakutkan bagi sebuah bangsa dibanding sejarah yang mengabur. Kekaburan sejarah berarti kekinian yang terus melangkah ke masa depan tanpa arah yang jelas. Di ruang politik, itu seperti berjalan dalam gelap di tengah badai. Di darat, laut, dan udara, tak ada yang menginginkannya.

Dalam situasi seperti ini, kita akan gagap menjelaskan keberadaan kita sebagai sebuah negara-bangsa. Itu adalah persiapan yang sempurna menuju kehancuran. Sebagai politisi, itu adalah resep bunuh diri. Di dalam sebuah negara-bangsa yang gagap menjelaskan keberadaannya, publik tak butuh politisi tapi penjahat.

Di Indonesia saat ini, publik cenderung mengidentifikasi politisi sebagai penjahat dalam arti tertentu. Persoalannya, publik punya urusan dan politik adalah urusan publik, karena itu politisi tetap dibutuhkan. Sebagaimana negara-bangsa, di era modern ini, politik adalah takdir publik yang sulit untuk ditolak.

Lebih dari itu, politisi dan penjahat selalu adalah dua hal berbeda. Politisi bisa menjadi penjahat, begitu pula sebaliknya. Tapi politisi pada dasarnya bukan penjahat, begitu juga sebaliknya. Politisi menjadi penjahat karena desakan kebutuhan publik. Sementara publik membutuhkan penjahat karena krisis eksistensi negara-bangsa.

Krisis eksistensi negara-bangsa muncul dari hilangnya arah berbangsa dan bernegara. Sementara arah itu hilang karena sejarah kita sebagai bangsa telah mengabur. Kekaburan yang muncul bukan karena sejarah itu menghilang atau menjauh tapi karena kita berpolitik tanpa pengetahuan akan sejarah.

Tapi tahu sejarah hanya persoalan mengetahui apa yang bisa kita temukan dari masa lalu. Kita harus melangkah lebih jauh dari sekadar tahu, kita harus punya apa yang disebut kesadaran sejarah. Dalam istilah Soekarno kita harus terus mengingat sejarah; peringatan jas merah.

Proses terus menerus ingat adalah proses menyadari. Dengan kesadaran itulah, ingatan yang terus menerus itu, kita bisa mengembangkan apa yang dalam cuitan Budiman bisa kita tafsirkan sebagai jaminan kemenangan, yaitu imajinasi politik. Bagaimana itu mungkin?

Pertama, hanya dengan imajinasi politik kita bisa menjelaskan dan mengukuhkan keberadaan kita sebagai sebuah negara-bangsa. Kedua, hanya dengan imajinasi politik kita bisa melukis peta arah perjalanan kita sebagai sebuah negara-bangsa. Ketiga, hanya dengan imajinasi politik kita bisa menjadi politisi, bahkan di tengah kebutuhan publik akan seorang penjahat.

Apa yang saya sebut penjahat dalam politik adalah mereka yang dianggap publik bisa menyelamatkan kepentingan rakyat dengan cara cepat dan mudah, semisal para demagog populis dan penjaja politik identitas. Dalam keadaan tanpa arah dan krisis eksistensi, kita tak bisa menyalahkan publik jika mereka membutuhkan itu.

Seorang politisi dengan imajinasi politik adalah seorang politisi yang, dalam kerangka kesadaran sejarah, mampu berpolitik pada saat ini dan di sini dengan cara pragmatis tanpa terjebak dalam oportunisme. Perhatikan, saya membedakan antara pragmatisme sebagai keahlian yang diperlukan dalam realitas politik praktis dengan oportunisme sebagai kebobrokan moral politik.

Pragmatisme dalam pengertian saya itu akan menjadi perwujudan praktis dari idealisme sejauh kita memiliki imajinasi politik. Artinya, dengan imajinasi politik, segala langkah pragmatis kita tidak akan meninggalkan dasar idealisme. Pada saat itulah kita akan menjadi politisi dalam pengertian terbaiknya.

Lalu apa itu imajinasi politik? Sederhananya, daya tembus dan pelampauan atas realitas politik sehari-hari. Imajinasi politik mencegah kita terjerembab dalam realitas politik keseharian hingga kehilangan pandangan yang lebih luas. Sekaligus dengan cara itu, kita bisa menemukan jalan keluar dari kebuntuan politik keseharian.

Saya ingin menggunakan pembedaan Henri Corbin terhadap yang imajiner dengan yang imajinal dari imajinasi untuk membedakan antara imajinasi sebagai khayalan tanpa pijakan realitas dengan imajinasi sebagai ruang pembentukan realitas yang baru berdasarkan realitas yang ada.

Artinya, imajinasi politik bukan khayalan politik yang tak berdasar pada realitas tapi, pada saat yang sama, juga tidak akan mengizinkan kita melihat realitas politik secara apa adanya. Dengan imajinasi politik kita bisa menembus dan melampaui realitas politik sehari-hari itu dan dari situ membangun sebuah realitas yang baru.

Realitas baru itu bisa berarti apa saja dalam politik. Bisa berarti kemungkinan jawaban atas persoalan kita, bisa pula berarti tawaran bagi sebuah upaya untuk bergerak, melawan, bermusyawarah, dan mencipta. Dalam hal ini, imajinasi politik jelas terkait dengan pengetahuan, baik diskursif maupun eksperiensial.

Tapi suka atau tidak, imajinasi politik seperti saran Budiman, adalah resep bagi kemenangan, bukan kebaikan. Adalah imajinasi politik yang digunakan Soekarno saat menggali Pancasila dan merebut kemerdekaan Indonesia dari penjajah. Tapi adalah imajinasi politik juga yang digunakan Soeharto untuk membantai jutaan orang komunis dan mendirikan Negara Orde Baru.

Meski begitu, apa yang jelas kita butuhkan saat ini adalah imajinasi politik di dalam kepala para politisi kita. Persoalannya hanyalah kebanyakan politisi kita tidak lahir dan tumbuh dari lingkungan yang biasa menggunakan imajinasi. Lalu apa yang harus kita lakukan? Gunakan imajinasi Anda. 

Manado, Desember 2021

amato

Posting Komentar

0 Komentar