MENCATAT KENANGAN

 MENCATAT KENANGAN

Kenangan. Beberapa orang menyebutnya duka, aku menyebutnya dusta. Semacam pengkhianatan yang bersahaja. Belati di punggung dengan ujung menempel pada kulit tulang belakang. Dan begitu seterusnya, kau hidup dengan itu. Sesekali terluka sesekali terlupa tapi tak akan pernah terpisah dari hidupmu, adamu, selama kau masih mewaktu. 

Kenangan menipumu untuk merasa pernah "kau" pada suatu waktu. Membuatmu merasa telah berubah atau masih tetap sama. "Aku masih seperti yang dulu..." Jerit lirih sebuah lagu. Tapi semua perasaan itu tidak akan membuatmu menjadi lebih baik dari kenyataan bahwa kau akan selalu membutuhkan waktu lampau untuk mendefinisikan pertanyaan konyol soal siapa kau yang sesungguhnya. 

Konyol, karena "yang sesungguhnya" itulah dusta kenangan yang akan terus membebani punggungmu dengan luka. Tak ada kau yang sesungguhnya. Yang ada hanya ilusi biografis tentang suatu waktu yang lampau dengan kau sebagai sang protagonis. Dan itulah yang dimaksudkan Nietzsche sebagai tragedi manusia-atas; kesadaran bahwa kita menjadi ada dengan menabung dusta dan menghitung luka. Dalam skema ini, merasa nyaman adalah rumah perlindungan para untermensch. 

Kata Nietzsche, kita harus menyambut tragedi dengan rasa riang. Itu artinya kita harus menerima belati di punggung dengan menari seperti Rumi. Atau, lebih sederhana lagi, dengan menjalani waktu tanpa disibukkan oleh detail-detail tak penting dari rasa perih masa lalu yang kita sebut hari esok. Dengan apa yang kita miliki sebagai manusia, tanpa perlu menjadi Sisifus, kita tahu bahwa harapan akan hari esok hanyalah bayangan di dalam cermin dari kenangan hari kemarin. 

Tentang hubungan kemarin dan hari esok, kenangan dan harapan, kata Soetardji Calzoum Bachri, "maut menabungku segobang segobang." Sialnya, dia benar.

Kotamobagu 2021 

amato


Posting Komentar

0 Komentar