IKHTIAR MELAWAN

IKHTIAR MELAWAN

Lawan dari kebahagiaan adalah kebenaran. Itulah kenapa manusia-atas memahami hidup sebagai penderitaan. Merayakannya dalam tragedi dan mengulang semua itu hingga batas akhir usia. Jawaban bagi dukkha, demikian dikatakan sang arif, bukanlah kebahagiaan tapi kesadaran akan yang-kosong. Itulah kebenaran pada dasar terdalamnya.

Apa yang kita sebut peradaban adalah upaya mempertahankan harapan. Membuat hidup jadi terasa berarti lewat kenangan yang kita miliki dan segala kisah umat manusia dalam mempertahankan ilusi. Kerja besar kemanusiaan, pada titik terakhirnya, adalah hasil kerja imajinasinya. Muncul dalam berbagai bentuk yang tampak menakjubkan. Sebut saja itu sains, seni, agama, atau berbagai kebiasaan kecil yang tidak penting tapi begitu bernuansa, seperti cara memasak atau memotong kuku.

Tapi untuk menjadi realitas, menjadi nyata dan benar, semua itu harus bisa menjadi kebiasaan; sesuatu yang kita sepakati. Dengan cara itu pula, realitas jutaan tahun keberadaan umat manusia tidak menyentuh kecuali bagian yang paling dramatis dari keinginannya untuk memiliki harapan dan menjadi bahagia dalam hidup yang bahkan jauh lebih buruk dari drama harapan dan kebahagiaan itu sendiri. Siapa yang datang lebih dulu mengetahui dengan cukup pasti bahwa dia dilahirkan untuk mati.

Demikianlah imajinasi difungsikan dan makna ditemukan. Filsafat pada mulanya adalah seni menyiasati hidup di dalam permainan pikiran. Tapi sejak kita membedakan puisi dengan keperihan pikiran, filsafat berubah menjadi cara memberi makna pada persinggahan itu. Kita kemudian merumuskan pertanyaan agar kita bisa berhenti bertanya. Membekukan puisi dalam kata-kata dan merayakan hidup sebagai yang satu-satunya. Bersama dengan itu, tuhan ditemukan dan agama diciptakan.

Apa yang kita miliki, puisi bagi jiwa-jiwa malang, tak lagi menjadi lebih berharga dari drama hidup penuh makna. Di dalamnya kita membentuk masyarakat sebagai kawanan ternak dengan setiap orang yang terbujuk untuk lupa bahwa pada suatu waktu kita pernah menjadi manusia dalam artinya yang sebenarnya.

Beberapa orang yang menyadari kebenaran ini, terpuruk dalam sejarah sebagai orang gila. Seorang nabi dari Eropa merumuskan kegilaan ini dalam perjalanan menjadi diri: meninggalkan keamanan finansial dan kenyamanan sosial. Dakwah penyimpangan radikal dari norma hidup bahagia.

Seorang nabi Eropa lainnya merumuskan semua itu dalam satu ungkapan, "fuck you!"

Manado 2022

amato

Posting Komentar

0 Komentar