AKU UNIK

AKU UNIK

Siapa yang menentukan jarak antara aku dan orang lain? Katakanlah diriku. Lalu siapa yang menentukan jarak antara aku dan diriku? Dalam kerangka spekulasi, aku bukan diriku tapi hanya sekantung ego. Dalam kerangka pengalaman, aku bahkan bukan aku tapi semacam kanker dari ilusi kehidupan.

Aku unik, sungguh. Tak ada yang harus meragukan itu. Tapi aku bukan apapun, bukan siapapun, hingga aku memilih untuk menjadi lebih dari semata aku. Menjadi diriku, tepatnya. Itu tentu saja bukan pilihan yang menyenangkan. Semua manusia-atas, mereka yang telah memilih menjadi semata diri mereka, dalam seluruh catatan sejarah yang pernah kita baca, mengetahui apa yang paling nyata hanya ada di dalam cermin ketika dunia terbalik dan kehidupan kehilangan sentuhan.

Adalah kehadiran yang telah kita pertukarkan dengan keberadaan yang harusnya bertanggungjawab pada lenyapnya pertanyaan yang mestinya kita ajukan dengan kalimat yang lebih lugas tapi kemudian berganti dengan gagasan-gagasan kosong tentang kebenaran dan segala yang lumat dalam jawaban. Kita adalah coretan cat di atas kanvas. Satu sapuan kuas yang hanya bisa menjadi berarti dalam konteks keseluruhan lukisan.

Mestinya tidak seperti itu. Aku adalah diriku bukan seruan sekadar untuk mengulang kebenaran filosofis atau menjadi lebih bernuansa sebagai binatang berakal dalam lingkaran evolusi. Aku adalah diriku hanya bisa menjadi sebuah kebenaran bagiku jika aku berupaya untuk merebutnya. Berupaya menjadi tidak hanya satu sapuan kuas dalam keseluruhan lukisan.

Perjalanan seorang anak manusia adalah takdir mencari diri yang tak pernah akan berakhir bahkan mungkin hingga jasadnya berkalang tanah. Kita memakamkan satu dan lain orang dengan kesadaran yang pahit betapa dia telah mencari bukan dirinya, menyia-nyiakan berkah evolusi yang dia miliki dalam cara dia berdiri tegak dan menari, untuk satu masa yang singkat dalam kehidupannya di dunia. Tapi apakah aku sudah menemukan diriku?

Persoalannya, jangankan menemukan, aku bahkan telah menghabiskan lebih dari separuh umurku bahkan tidak untuk mencari. Apa yang akan aku temukan jika aku tidak mencari? Aku bahkan tidak pernah tahu bahwa aku begitu unik sebagai diriku, sedemikian sehingga aku tidak dengan sendirinya adalah diriku. Aku telah begitu saja berpikir bahwa aku adalah diriku, satu di antara sekian spesies binatang yang berusaha menjadi bukan diriku dengan mencari, katakanlah, tuhan, kebenaran, keadilan, kebebasan, dan seterusnya dan seterusnya.

Aku telah mencari semua yang aku kira lebih tinggi dari diriku hingga dalam satu putaran saja, aku telah melupakan diriku. Itu bukan berarti aku berhenti menjadi egois. Itu hanya berarti aku telah menjadi sang egois tanpa setitikpun diriku dalam aku. Aku menjadi sang egois tanpa keunikanku sebagai diriku.

Aku katakan padamu, tak ada yang lebih egois dari seorang pemuda baik-baik yang ingin mencapai kesuksesan dunia dan akhirat. Menjadi kaya, sehat dan berhasil. Melakukan segala kebaikan dan memperoleh ganjaran ilahiah. Sekalipun untuk itu, dan inilah kasusnya, aku harus meninggalkan diriku. Dia begitu egois untuk menjadi orang sukses yang baik. Dia ingin selamat (sendiri) di dunia dan akhirat. Dia adalah manusia egois tanpa diri.

Tapi tak perlu kuatir, sejak di dalam rahim, kita telah dimaksudkan untuk menjadi bukan kita. Dimulai dengan menjadi, katakanlah, anak yang baik; artinya, anak yang berguna bagi keluarga, nusa, bangsa dan agama. Hidup dalam bayangan itu. Nasehat yang paling halus bagi omong kosong ini adalah sebentuk kebebasan ilusif dari ungkapan, “Jadilah apapun yang kau inginkan asal bertanggungjawab.” Lalu kita menghabiskan seluruh usia bukan untuk menjadi apa yang kita inginkan tapi untuk menjadi orang yang bertanggungjawab. Apapun itu artinya.

Dan itulah masalahnya. Sejak awal, sekali lagi sejak awal, kita tidak pernah diberkati dengan kemampuan yang lebih dari imajinasi untuk melampaui segala-galanya. Tapi kita telah menghabiskan seluruh energi imajinal kita dengan ratusan, bahkan ribuan konsep abstrak seperti kata ‘bertanggungjawab’ itu. Ratusan, bahkan ribuan, konsep yang akan menyertai jasad kita di kalang tanah. Jasad yang pernah hidup sebagai aku tanpa diriku. Jasad yang mati bagi segala-galanya kecuali dirinya sendiri.

Jasad yang tidak pernah tahu, atau mungkin lebih tepat lagi tidak pernah mau tahu, bahwa aku “mestinya” adalah diriku dengan lebih dulu menyadari bahwa aku semata keunikan bagi diriku. Alih-alih mengejar diri, aku telah mengejar ego. Diri adalah yang tiada bagi apapun selain aku, ego adalah segalanya yang membuat aku menjadi selain diriku sendiri.

Diri adalah aku yang telanjang di hadapan semesta. Ego adalah bayanganku di dalam cermin dengan seluruh pencapaianku sebagai anak manusia. Jika aku “orang sukses” maka aku akan tersenyum pada bayanganku, jika aku “orang gagal” maka aku mungkin akan bunuh diri.

Dalam versi Camus, sebelum mati, Caligula berseru, “betapa pedih upacara menjadi manusia ini…”

Oktober 2022

amato

Posting Komentar

0 Komentar