ATAS NAMA
Sebenarnya cukup menjijikkan melihat mereka mengganti tuhan dengan tuhan.
Dalam nama apapun, sesungguhnya, adalah nama itu sendiri yang memberi kita ide tentang tuhan atau yang kita percaya sedemikian adanya. ‘Adakah tuhan?’ adalah pertanyaan yang mustahil sejak kita harus menganggap ada setiap ekspresi yang menemukan dirinya di dalam nama; seperti pohon, manusia, kambing, padang, kota, sains, filsafat, seni, kerendahan hati, kearifan, kebajikan, misteri, kecabulan, dan apapun sajalah yang bisa kita namakan.
Kita sudah lama lupa pada apa yang pernah kita alami hingga saat kita mengalaminya kembali sebagai sesuatu yang berbeda. Tapi sedikit ingatan soal itu akan membuatnya tidak terasa terlalu berbeda. Demikianlah kita menemukan tuhan – yang diekspresikan dalam nama apapun – ketika kita mengalami sesuatu yang sama sebagai hal berbeda tapi kita tahu bahwa itu sama.
Dalam bahasa psikologi, beberapa orang menunjuk pada ketakutan (mis., dewa petir sebagai tuhan), beberapa yang lain menunjuk pada ketaklukan (mis., sang maha sebagai tuhan), dan beberapa yang lain lagi menunjuk pada ketakjuban (mis., astrofisika sebagai tuhan).
Sedemikian sehingga kita sepertinya harus menerima bahwa persoalan kita dengan tuhan tak lebih dari persoalan cara kita mengekspresikan perasaan dalam nama (atau nama nama) dengan, tentu saja, sedikit kecenderungan untuk melintasi ilusi.
Akan tetapi, yang tak terlihat oleh para pengamat ketuhanan yang paling teliti sekalipun, entah dia teis atau ateis, persoalan kita dengan tuhan bukanlah perasaan dan ekspresinya tapi ilusi. Begitu kita melintasinya, kita akan menemukan tuhan – dengan nama apapun kita akan menyebutnya.
Jadi, demikianlah nama telah mengajarkan nama nama.
Manado 2022
amato

0 Komentar