Ada sebuah kotak kecil kehidupan. Kita menyimpannya di sebuah tempat yang lebih dekat dari urat leher kita sendiri. Beberapa peradaban menyembahnya sebagai tuhan, beberapa yang lain menjadikannya alasan untuk menemukan diri. Di zaman kita, dimulai sekira abad ke-18, kotak itu menjadi tempat para pemuda menyimpan impian mereka.
Gadis gadis cantik yang akan segera terlupa karena persoalan ukuran buah dada. (Pada abad ke-20 para feminis menambahkan, perjaka-perjaka tampan yang akan segera terlupa karena persoalan ukuran lebar dada.) Beberapa buku dengan judul yang panjang. Kebiasaan kebiasaan kecil yang menjelaskan ikatan mereka dengan keluarga asalnya. Juga puisi dan lidah petir yang mengumumkan anarki.
Adapun aku, mengikuti guruku, seorang pembuat onar, aku menggunakan kotak kecil kehidupan itu sebagai tempat menyimpan kepunyaanku. Semacam impian para pemuda juga, tapi yang tidak dimulai dengan kekalahan melainkan dengan garis-garis di sisi luar keyakinan. Di situ, hak yang aku miliki tanpa bisa dicegah kekuasaan apapun adalah bunuh diri.
Ya, mati kemudian akan berhenti sebagai takdir hingga lebih bisa dialami sebagai pilihan yang tak mungkin mustahil. Bagaimana itu mungkin? Di dalam kotak kecil kehidupan itu kematian adalah kepunyaanku yang paling murni. Aku memilikinya seperti mendengarkan nyantian atau, lebih tepat lagi, merasakan irama.
Kita boleh menyebutnya estetika kematian di dalam kotak kecil kehidupan. Tapi yang lebih penting lagi, ia telah mengajarkan padaku bahwa dengan kematian sebagai kepunyaanku, aku menjadi unik.
Suatu kali, seseorang pernah bertanya kepadaku, “Siapakah kau?” Dari dalam kotak kecil kehidupanku kudengar jawaban, “Der Einzige…”
Manado 2022
amato

0 Komentar