MENCATAT PEMAHAMAN

MENCATAT PEMAHAMAN

Lepas dari segala yang kita ketahui tentang memahami, ada satu ungkapan mengenai pemahaman yang barangkali boleh kita renungkan, “Kau tak akan paham hingga kau telah mengalaminya sendiri.” Saya mendengar ungkapan itu dari seorang seniman tua ketika saya kuliah dulu. Dan saya kira itu bukan ungkapan yang terlalu luar biasa. Persoalan sesungguhnya dengan ungkapan ini adalah kebenarannya yang menyakitkan.

Dalam arti apapun, ungkapan ini benar adanya. Tapi lebih dari itu, kebenaran ungkapan ini sesungguhnya begitu menyakitkan. Kita tidak memiliki perangkat pikiran yang cukup sempurna untuk mencapai pemahaman semata lewat cara a priori. Wacana bisa memberi kita pengetahuan tapi pemahaman hanya bisa diperoleh ketika pengetahuan itu telah kita alami sendiri.

Dan mengalami pengetahuan, sebagaimana sifat pengetahuan dalam penilaian kita atasnya, adalah mengalami diri dalam pertentangan yang terus menerus. Kita tidak pernah diberkati dengan pengetahuan tanpa diiringi oleh pertentangan yang termuat sebagai sifat bawaan pengetahuan itu sendiri. 

Maksudnya, pengetahuan selalu tersaji pada kita sebagai kaitan antar informasi yang mengandung pertentangan di dalam dirinya. Dengan begitu, mengalami pengetahuan adalah juga mengalami berbagai pertentangan di dalamnya. Dan pertentangan pertama yang akan kita alami adalah keputusan untuk mengalami pengetahuan kita.

Selalu ada resiko ketika kita memasuki wilayah pengalaman. Mengetahui dalam wacana akan adanya resiko dari sebuah ajaran adalah satu hal. Sementara bertekad untuk menghadapinya dalam pengalaman adalah hal lain. Pertentangan di sini muncul ketika kita tahu bahwa dengan memilih jalan mengalami pengetahuan, kita akan menghadapi resiko dari pengetahuan yang akan kita alami itu. Sayangnya, tidak semua kita yang mengetahui resiko pengetahuan cukup memiliki keberanian untuk mengalaminya.

Pada posisi itulah kita menemukan beda antara mereka yang terpanggil dengan mereka yang dipilih. Sangat mudah untuk menemukan mereka yang menghafal ribuan wacana; para pemilik pengetahuan yang tampak menakjubkan namun tak lebih dari corong gagasan. Jika cukup beruntung, mereka boleh kita masukkan dalam golongan yang terpanggil.

Sebaliknya, sangat sulit untuk menemukan mereka yang sembari memaparkan wacana juga hidup di dalamnya lewat pengalaman mereka akan apa yang mereka paparkan itu. Mereka adalah orang-orang yang memiliki pemahaman atas apapun yang mereka ketahui. Dan pengetahuan mereka adalah jaringan yang membentuk wawasan lewat pengalaman mereka atas berbagai pengetahuan itu. Maka sudah seharusnya jika kita memasukkan mereka dalam golongan yang dipilih.

Ilmuwan yang menjadi filsuf setelah melewati padang kearifan dalam cerita Kahlil Gibran adalah orang yang terpanggil untuk mengetahui. Adapun penyair yang menjadi nabi setelah melewati padang yang sama adalah orang yang dipilih untuk memahami. Dan bisa kita katakan dengan yakin bahwa pada sang ilmuwan, padang kearifan adalah ketekunan dalam merenungi, sedangkan pada sang penyair, padang kearifan adalah keberanian untuk mengalami.

Saya kira, Nietzsche, Zarathustra dan ideal Ubermensch mereka ada di jalan pengalaman demi pemahaman akan segala pengetahuan. Dan itulah yang disebut filsafat sejati; filsafat yang telah melampaui baik dan buruk, filsafat yang dilandaskan pada keanggunan moral tuan. Filsafat sebagai cara hidup.

Kotamobagu 2021

amato


Posting Komentar

0 Komentar