MENCATAT PERJALANAN 2

MENCATAT PERJALANAN 2

Perjalanan mestinya adalah cara bagi kita untuk menuntaskan rasa rindu meski, tak jarang, perjalanan justru bisa menambah daftar kerinduan. Tapi, apapun jugalah, dengan perjalanan kita bisa mencatat begitu banyak hal, termasuk rindu. Perjalanan bisa berarti pergi, bisa juga bermakna pulang. Dalam kedua arti ini, perjalanan selalu merupakan sesuatu yang menghinggakan kita pada sesuatu. Uniknya, bagi seorang pengembara, “sesuatu” itu hanya akan terdefinisikan oleh perjalanan itu sendiri.

Demikian juga, kita menemukan perjalanan dalam segala sesuatu. Dari perpindahan fisik ketika kita bergerak dari satu tempat ke tempat lain, hingga perpindahan spiritual, sebuah momentum pergerakan dari sini ke sini. Dalam kerangka yang lebih filosofis, saya cenderung memikirkannya sebagai sebentuk perjalanan metafisis, sekaligus epistemis, dari ‘hadir’ ke ‘ada’, dari ‘tahu’ ke ‘paham’. Dan dengan mengatakan semua itu, saya sedang bicara tentang bagaimana perjalanan fisik menjadi cara bagi kita untuk melakukan perjalanan spiritual dan/atau filosofis.

Secara pribadi, saya memahami perjalanan sebagai keharusan. Mungkin karena saya percaya, seperti Plato, bahwa realitas sejati tidak pernah berubah. Kita berada dalam permanensi yang mutlak dan kekal. Itulah kenapa cukup mudah bagi kita untuk percaya bahwa tuhan itu ada. Sedangkan bagi saya, dengan atau tanpa tuhan, perjalanan menjaga kita untuk memahami posisi kita dalam permanensi itu. Dalam hal ini, perjalanan, keadaan berpindah yang terus menerus, adalah rangka sensual bagi kesadaran kita akan perubahan. Adapun permanensi, sebagai realitas, datang setelah itu; setelah sensasi, setelah perubahan.

Lalu apakah saya memilih melakukan perjalanan dengan alasan serumit ini? Tidak. Renungan singkat ini hanya temuan liar dalam perjalanan yang saya lakukan. Saya sendiri memilih berjalan, berpindah dari satu tempat ke tempat lain, berada dalam perubahan terus menerus, karena saya sedang mencari sesuatu yang saya sendiri tak pernah tahu apa itu. Saya tentu boleh berharap, dengan terus berjalan, saya akan tahu apa yang saya cari. Dan jika cukup beruntung, mungkin saya juga akan menemukannya.

Kotamobagu 2021

amato


Posting Komentar

0 Komentar