Kita tidak punya banyak pilihan. Kita ada di sini dan tidak punya banyak pilihan. Tapi fakta itu tidak harus membuat kita kehilangan kesempatan untuk berubah, atau sekadar melakukan sesuatu. Membuat ikhtiar untuk menjadi lebih baik, atau setidaknya keluar dari masalah.
Kita bisa mulai dengan pilihan. Bukan “apa yang mesti kita pilih?” yang harus menjadi pertanyaan. Bahkan sesungguhnya bukan pertanyaan yang seharusnya menjadi awal pembicaraan kita soal pilihan. Kita bisa mulai dengan membuat pilihan. Dengan mengidentifikasi beberapa hal sebagai pilihan.
Tapi jika ada yang harus dipertanyakan soal pilihan, maka pertanyaan terbaiknya adalah “kenapa kita memilih?” dengan atau tanpa asumsi apapun soal sejumlah kemungkinan yang tersedia bagi kita untuk membuat pilihan. Pertanyaan itu sudah memberi penjelasan bahwa memilih itu mungkin bagi kita.
Perkara yang tertinggal adalah semungkin apapun kita bisa memilih, tetap saja kita tidak punya banyak pilihan. Kita ada di sini dan tidak punya banyak pilihan. Itu kenyataannya. Bahkan, dalam tingkat kenyataan yang lebih sublim, kita ada di sini dan itu membuat kita tidak punya banyak pilihan.
Selalu seperti itu dalam sejarah umat manusia. Maka lahirlah agama. Memberi kita harapan tentang “di sana” di mana segala kemungkinan pilihan terbuka bagi kita. Entah “di sana” dalam ruang, dalam waktu, dalam keberbagaian, atau justru dalam ketunggalan yang absolut. Tidak lagi penting.
Apa yang penting adalah kehadiran “di sana” yang menjanjikan pilihan. Dan kita berfokus pada pilihan(-pilihan) karena tepat di situlah kita meletakkan harapan. Pada pilihan(-pilihan) kita membuat harapan menjadi mungkin. Dan siapa yang akan terus punya alasan bagi hari esok tanpa adanya harapan?
Tapi pilihan bukan kaki yang kita gunakan untuk melangkah ke hari esok, seperti juga harapan bukan hari esok itu sendiri. Ketiganya – pilihan, harapan, hari esok – adalah alasan dari satu terhadap yang lain. Di sela antara ketiganya adalah bayang-bayang ketiadaan pilihan, hilangnya harapan, dan kegelapan esok.
Tapi bukankah itu semata idealisasi kita atas satu bagian kecil dari hidup yang muncul dari pikiran atas waktu sebagai yang berlangsung linear dari kini ke nanti? Bukankah itu yang menjadi pembeda dalam pilihan(-pilihan) atas yang “di sana” dari antara beragam agama yang ada?
Dalam agama-agama India, seperti Hindu dan Buddha, waktu bergerak melingkar sehingga yang “di sana” bukan berarti nanti tapi jumbuh “di sini” dalam kekinian. Dalam agama-agama Timur Tengah, seperti Kristen dan Islam, waktu dipahami linear, sehingga pembagian menjadi jelas: di sini dan di sana, kini dan nanti.
Tapi bahkan ketika waktu dipahami secara melingkar, tetap saja kita tak punya banyak pilihan. Karena, pada akhirnya, persoalan pilihan bukanlah persoalan waktu dan ruang tapi bagaimana kita berada di dalamnya, di dalam waktu, di dalam ruang, di dalam kondisi-kondisi bagi keberadaan kita.
Persoalan pilihan adalah persoalan keberadaan kita.
Waktu memberi latar, ruang memberi panggung. Lampu dinyalakan dan lakon dimulai. Dunia kita selalu adalah dinding keempat yang menghubungkan antara peran yang kita lakoni dengan kenyataan para penonton dalam sebuah pertunjukan yang kita tidak pernah tahu kapan berakhir.
Manado 2021
amato

0 Komentar