MENCATAT SPIRITUALITAS

MENCATAT SPIRITUALITAS

Spiritualitas adalah sebuah konsep. Lebih dari itu adalah semacam rasa yang memberi kita hidup sebagai suatu keseluruhan; sebagai suatu kompleksitas yang memenuhi keberadaan kita. Ketika kita menyadari hidup bukan sebagai lembar pertanyaan dengan jawaban pasti.

Akan tetapi di dalam rasa kita tidak terombang-ambing, menjadi tanpa kepastian. Kita justru berada dalam pengalaman yang sedemikian pasti. Sebentuk kepastian yang muncul dari penyingkapan kesadaran akan momen itu sendiri dalam kekiniannya, bukan keyakinan yang disandarkan pada pengalaman sebelum dan ekspektasi akan yang setelah itu.

Di dalam rasa, tidak ada pertimbangan mengenai baik dan buruk atau benar-salah, bahkan tidak ada yang disebut dengan pertimbangan. Yang ada hanya keberadaan yang bersifat tunggal dan menyeluruh. Entah jika itu bisa kita sebut sebagai kebenaran, tapi ia setidaknya adalah jalan ke arah itu.

Lebih jauh lagi, dalam pengalaman rasa ini, kita akan mengalami pelampauan atas apa yang kita ketahui dan hendak kita rangkul. Kita menjadi kita lewat sebentuk kehadiran yang sekilas dalam kepasrahan. Sebentuk pengalaman ada yang, sekali lagi, mengatasi keberbagaian. Di titik pengalaman ini “rasa” harus dipahami sebagai “rahsa” dalam kosa kata kearifan Jawa.

Sekilas kepasrahan itu (momen inti pengalaman rahsa) datang dari penyingkapan kesadaran bahwa, dalam keseluruhannya, hidup senantiasa dipenuhi oleh vibrasi Sumber keberadaan segala. Tak ada rahasia yang tersingkap kecuali pengetahuan yang begitu mendasar bahwa aku berasal dari semua ini dan akan kembali kepada semua ini. Pengetahuan bahwa “semua ini” adalah satu yang menjadi Sumber segala-segalanya.

Spiritualitas adalah penyingkapan kesadaran bahwa aku sedang dan selalu mengarah pada Sumber itu. Spiritualitas adalah pengalaman paling murni dari apa yang disebut sebagai peristiwa mental-kesadaran; bentuk yang paling tertangkap dari prinsip mentalisme Hermetik atau seruan Yesus tentang ‘kerajaan tuhan’ yang berada di dalam (diri) kita.

Dan dalam bentuknya yang seperti itu, jadi jelas bagi kita bahwa spiritualitas adalah kesadaran akan perjalanan aku menuju aku di dalam aku yang tanpa henti. Itulah kenapa rahsa (rasa itu) menjadi tahta keberadaan Ingsun (aku itu). Dengan begitu, jika kita hendak meminjam langgam bahasa agama-agama Semit tentang Kedatangan Kedua sebagai momentum perubahan total kemanusiaan, harus kita katakan bahwa itu bukanlah peristiwa historis tapi semata biografis.

Kedatangan Kedua adalah momentum rahsa ketika “aku” mati (secara mental) dan dilahirkan kembali dengan kesadaran yang baru sebagai “aku itu.” Dengan alasan popularitasnya istilah Tuhan, saya suka meminjam istilah Deepak Chopra untuk menyebut jenis kesadaran itu sebagai Kesadaran-Tuhan (God consciousness).

Sampai di sini, bisa kita pahami bahwa spiritualitas sebagai konsep yang menunjukkan pada kita pengalaman rasa sebagai peristiwa rahsa adalah sebentuk subversi bagi kemapanan iman. Sebuah pemberontakan esoteris yang, dalam sejarah agama-agama – setidaknya di sebagian belahan dunia, kerap diidentifikasi sebagai heresi, bid’ah dan penyimpangan.

Pada kita, persoalan yang tersisa, spiritualitas bukanlah pilihan yang bebas kita ambil atau abaikan. Pada kita, siapapun yang dimaksud kita, spiritualitas adalah apa yang paling fitrah dari apa yang bisa kita inventarisir sebagai bawaan lahir manusia. Spiritualitas ada bersama kita karena Sumber – dari mana kita berasal dan ke mana kita menuju – tak pernah lain kecuali kita sendiri dalam tingkap-tingkap kesadaran berbeda.

Dan, kekasihku, dalam cara itulah aku memahami realitas sang Ubermensch.

Manado 2021

amato


Posting Komentar

0 Komentar