NAUSEA PERTAMA
Semua manusia, siapapun dia, dilahirkan di atas dunia yang mendesaknya untuk bergerak mundur ke masa depan. Usia yang dengan sia-sia hendak mereka lawan semata karena hidup telah menjadi kenyataan di dalam kenangannya. Seperti ikan di dalam lemari es yang sia-sia melawan takdirnya sebagai mayat.
Hidup adalah kekosongan yang diberi arti oleh ilusi. Kematian membuatnya jadi berharga, setidaknya sebagai sesuatu. Kita sendiri yang akan menyebut sesuatu itu apa. Di ujungnya ada ketidaktahuan yang menganga, ketiadaan yang mencekik dan semacam harapan akan jawaban. Padahal bahkan pertanyaan itu sendiri tak pernah bisa dilepaskan dari kemurnian ilusi.
Manusia dilahirkan dengan ilusi yang disematkan pada “aku” terdalamnya. Dia melihat dirinya di balik cermin dan menemukan sesuatu yang percuma. Lalu hidupnya menjadi sempurna saat ilusi itu mulai bekerja. Dia menjadi apa yang diinginkan oleh apa yang tidak dia ketahui. Bergerak mundur menuju kematian tapi terus berpikir bahwa dia telah menjadi lebih dewasa, lebih tahu, lebih ada.
Padahal dia hanya bermain dengan ilusi itu tapi merasa telah memiliki kehidupan yang cukup berharga untuk dia perjuangkan. Dia menjadi “aku” lengkap dengan semua ilusi itu, termasuk ketika dia menolak untuk menjadi tak hanya “aku” lewat berbagai identifikasi dirinya dengan suatu kelompok atau sebuah keyakinan.
Dia bisa merasakan nyeri pada dagingnya dan perih di dalam pikirannya. Dia bisa menyentuh kesepian dan kesedihan yang menyayat. Tapi dia menciptakan puisi, menyanyikan lagu, menulis buku, membuat revolusi, menjerit di pantai atau bercinta dengan tubuh yang terus membusuk. Juga menatap langit dan menemukan tuhan. Ketika dia merasa bahagia, dia mestinya tahu bahwa dia telah jatuh semakin jauh ke dalam jurang kehampaan. Dia tertawa, bersama seluruh umat manusia.
Sementara aku dicekam rasa mual.
Manado 2022
amato

0 Komentar