Politik memberi kita Pancasila, geopolitik mengukuhkannya dengan banyak catatan. Dalam rangka itu ada yang menjadi lebih jelas, Pancasila untuk kita berhadapan dengan kita di hadapan dunia. Artinya, pertama, Pancasila harus jika kita harus berhadapan dengan kita dan, kedua, Pancasila harus jika kita harus berada di hadapan dunia.
Lalu bagaimana jika kita harus berhadapan dengan dunia? Ini yang menarik dari geopolitik. Tidak pernah ada “kita” yang harus berhadapan dengan dunia. Yang ada hanya “kita” di hadapan dunia. Di dalam geopolitik, dunia hanya derivasi dari imajinasi tentang “kita” sebagai sebuah bangsa di dalam suatu negara. Dunia selalu hanya “kita” dalam bentuk jamak.
Demikianlah geopolitik mengukuhkan Pancasila.
Yang tinggal kemudian adalah catatan yang banyak itu. Yang paling penting di antara banyak catatan itu adalah tidak cukup bagi kita untuk bersepakat bahwa Pancasila merupakan dasar dari imajinasi kita sebagai sebuah bangsa, kita harus punya dasar bersama untuk disepakati dalam soal Pancasila, setidaknya kita harus terus mengupayakan kesepakatan semacam itu.
Dalam hal ini, perjalanan kita menjadi sebuah bangsa mestinya adalah perjalanan kita dalam mengupayakan kesepakatan itu. Kenapa? Karena, sesungguhnya, bukan Pancasila itu sendiri yang dapat menjaga imajinasi kita sebagai sebuah bangsa tapi kehendak kita akan sebuah pengertian bersama mengenai Pancasila. Bahwa hal itu belum terwujud, bahkan sekilas tampak mustahil, mestinya bukan masalah karena menjadi sebuah bangsa hanyalah utopia yang harus.
Demikianlah politik memberi kita Pancasila.
Manado 2022
amato
.jpeg)
0 Komentar