Puisi diciptakan dengan kata bukan dengan gagasan. Tapi puisi lebih sering mampus karena terkubur di dalam kata-kata. Puisi membawa jiwa bahasa. Cara bagi manusia untuk menjeritkan kefanaannya. Puisi selalu merupakan puisi tentang kefanaan manusia. Tak bisa lain kecuali ia akan gagal sebagai puisi. Dalam baik dan buruknya, puisi menjadi puisi karena ia menciptakan bahasa. Dengan itu ia menjeritkan kefanaan manusia. Dari situ segalanya menjelma menjadi puisi yang baik.
Filsafat adalah puisi paling buruk yang pernah diciptakan manusia dalam sejarah. Dan meski tak lebih buruk dari filsafat, begitu juga sains dan agama. Bagaimanapun sains masih memberi kita wawasan tentang diri kita sebagai satu dari begitu banyak spesies binatang yang pernah ada dalam sejarah. Sedangkan dengan agama, kita menciptakan banyak berhala seperti tuhan, takdir, kiamat dan kehidupan setelah mati. Dalam keputusasaan, kita membutuhkan berhala; gagasan yang melampaui keberadaan kita sebagai binatang.
Imajinasi purba ketika kita berevolusi dari primata menjadi manusia, memberi kita gambaran tentang sesuatu yang lebih besar dari diri kita, yaitu diri kita. Leluhur orang Jawa menyebutnya ingsun, der Einzige, inti keberadaan yang-kosong. Dengannya kita mencipta puisi, jerit kefanaan itu. Sekarang kita menyebutnya mantra, agar kita bisa melupakannya sebagai warisan dari masa transisi yang tak lagi sepadan dengan ketololan kita mengejar bayangan imajinasi sendiri. Menyusun kenyataan dari ilusi demi ilusi yang kita sepakati.
Kenapa aku berpikir?
Lalu kita tergoda mengganti bahasa daging menjadi bahasa jiwa. Demikianlah kenikmatan yang kita rasakan menggoda kita untuk menggagas tentang kebahagiaan. Demikianlah sains memberi alasan bagi kita untuk merumuskan misteri setelah agama mengusir puisi dari kesadaran kita.
Sebagai bagian dari imajinasi purbawi yang pernah kita miliki, filsafat seusia dengan pikiran. Kita melihat binatang dan menangisi kefanaannya. Kita melihat bintang dan mengamini keabadiannya. Itulah kenapa tuhan dan kehidupan setelah mati selalu berada di atas sana. Selalu harus melampaui kebinatangan kita dalam kepekatan langit hitam.
Puisi pertama diciptakan oleh para pelacur. Setelah kita hidup menetap, para pelacur menjadi ibu rumah tangga dan puisi menjadi omong kosong para dukun dan, kemudian, penyair. Beberapa tradisi kehidupan menetap masih menjaga puisi tetap berada di mulut para pelacur; yang aku maksudkan selalu adalah perempuan. Tapi masyarakat telah terlanjur terbentuk. Bersamanya lahir pasar dan tempat menyembah berhala.
Keduanya akan bisa menjadi lebih rumit, yang artinya menjadi lebih canggih dan agung seperti masyarakat itu sendiri. Tapi dari sudut tertentu kau berdiri, bersama para pelacur dan puisi di mulut mereka, kau akan menyaksikan semua itu sebagai cara bagi kawanan ternak menerjemahkan kefanaan sebagai makna. Pasar dan rumah ibadah. Tubuh dan jiwa.
Omong kosong jutaan tahun sejarah evolusi dalam biografi seonggok daging yang tetiba menjadi dosa karena mencipta puisi. Tapi tentu saja kita sedang bicara tentang puisi yang diciptakan dengan kata, bukan dengan gagasan. Puisi yang diciptakan sebagai mantra ingsun menjeritkan kefanaan daging binatang tapi sekaligus keajaibannya.
Kenapa aku berpikir?
Malam belum begitu larut. Dari jendela kamar hotel, aku menyaksikan lampu jalan menyinari tubuh pelacur itu. Sebuah puisi. Seonggok kata.
Kenapa aku berpikir?
Manado 2022
amato
.jpeg)
0 Komentar