Apapun yang kau pikirkan tentang kemustahilan, ia akan berbunyi lebih keras dari pikiranmu sendiri. Ia akan memberimu begitu banyak kemungkinan untuk menjadi berbeda. Ia akan menjerumuskanmu ke dalam surga ketidakpedulian. Karena, tak bisa lain, ia adalah cara bagimu untuk menolak dirimu sendiri. Semacam kesempatan untuk jadi pengecut dalam cara yang tak kentara.
Kita bisa memulai pembicaraan ini dengan membahas bunyi itu. Sesuatu di dalam kepalamu yang telah tersimpan lama dari suara semua orang terdekat di dalam hidupmu. Kau tidak terbiasa menolak suara-suara itu. Kau bahkan merasa menjadi dirimu dengan mendengarkan semua suara itu. Kau menyusun kebenaranmu dengan setiap bagian kata, bahkan semata gerundelan, yang telah kau dengar sejak telingamu difungsikan untuk menyimpan bunyi di dalam kepalamu.
Dan semua suara itu akan menjadi bunyi nyaring di dalam kepalamu ketika kau berjumpa dengan satu dari tiga pikiran: kenangan, keyakinan atau kemustahilan.
Kemudian tentang menjadi berbeda. Definisi yang paling tepat dari frasa itu adalah menjadi apapun yang bukan kau. Dia menyebut sang kau sebagai der Einzige; sesuatu yang hanya ada sebagai kau dan hanya kau. Sebuah keunikan yang tak bisa menjadi lain kecuali kau. Tak ada yang sama dengan kau, sedemikian sehingga setiap yang berbeda pasti bukan kau.
Keunikannya, kau akan hanya akan memahami kebenaran ini dengan menyebut kau sebagai aku dan berdiam di dalamnya dengan kecemasan yang mencekik.
Selanjutnya soal surga ketidakpedulian. Bunyi di dalam kepalamu, suara purba biografimu itu, adalah seruan yang begitu lantang akan jalan, perjalanan, serta semacam tujuan. Tuntunan bagimu tak hanya untuk menjadi lebih berarti sebagai seseorang tapi juga memberi makna pada hidupmu. Artinya, menjadi berguna bagi, dan di dalam, duniamu.
Semua begitu berjejer sebagai tugas dan kehangatan mengisi hidup dari sepenggal diri yang peduli pada semua hal kecuali dirimu sendiri. Kau menyebut aku hanya untuk meyakinkan dirimu bahwa sosok di balik cermin di hadapanmu adalah kau. Selebihnya hanyalah ketidakpedulian surgawi akan dirimu sendiri.
Siapa yang akan peduli siapa kau? Mereka hanya mengenal topeng yang kau kenakan, semisal gelar yang kau sandang, jabatan yang kau miliki, prestasi yang kau buat, dan segala hal semacam itu. Siapa yang akan peduli pada wajah di balik topeng yang kau kenakan? Bahkan mungkin kau sendiri sudah melupakannya.
Ya, dengan kepala yang berbunyi, kau akan belajar menolak dirimu sendiri; setidaknya, segala apapun yang hanya kau.
Terakhir, mari kita bicara mengenai kesempatan itu. Kau tahu, sejak kau belajar menjadi bagian dari orang banyak di sekitarmu, mencoba mencocokkan dirimu dengan apa saja yang mereka ucapkan mengenai dirimu, kau kehilangan kau -- sang aku: atau yang dia sebut der Einzige itu.
Bagaimana caranya?
Dengan merebut kesempatan untuk merasa takut tanpa kehilangan perasaan telah melakukan yang terbaik bagi semua orang, semacam menjadi pahlawan keluarga, anak yang berguna atau segala sesuatu yang semacam itu. Artinya, menjadi pengecut tanpa kentara. Kau telah begitu terbiasa dengan permainan itu. Sebegitu rupa. Lalu kau menemukan kata untuk membuat suara itu menjadi bunyi yang keras di dalam kepalamu, kemustahilan.
Dua kata lainnya akan kita bahas nanti setelah kau berhasil membersihkan cerminmu seperti kau membersihkan sisa-sisa kecerdasan yang pernah kau miliki saat kau masih bisa bertanya tanpa kenangan, keyakinan dan, tentu saja, kemustahilan. Karena hanya dengan cara itu kau bisa melihat wajahmu tanpa semua topengmu.
Dan sementara kau melakukan itu, izinkan aku muntah sekali lagi.
Manado 2022
amato

0 Komentar