Kegelisahan adalah percakapan dengan nurani yang tidak akan pernah berakhir hingga kita menyerah pada keyakinan. Sekali lagi sebuah cara yang diberikan hidup pada kita, bukan lewat apa yang harus kita pahami tapi lewat apa yang telah kita alami.
Kegelisahan menjelma dalam isyarat batin. Ketika kau menyapa dirimu, membatinkan ajakan, lalu menemukan tanggapan yang tak sepenuhnya kau pahami, percakapan akan dimulai. Setelah itu isyarat- isyarat, kemudian kegelisahan.
Temukan kegelisahanmu, jadilah manusia!
Demikian manusia menjadi manusia. Menjadi dirinya sendiri. Membangun dan menghancurkan dan membangun dan menghancurkan. Kita baru akan berhenti ketika kegelisahan melenyap dan kepastian mencengkeram. Pada saat seperti itu, hidup tak akan lagi memberimu puisi. Sungguh.
Seperti di dalam kitab suci, Plato mengutuk puisi karena memberi kita kegelisahan. Lalu filsafat, setidaknya setelah Plato, menjelma kegersangan pikiran, hingga datang agama-agama sebagai – seakan – pilihan terakhir bagi hidup yang hanya menunda kematian.
Padahal pernah sekali waktu, filsafat hadir di bawah cerah puisi dan manusia merayakan kegelisahan dengan hidup sebagai pengalaman dari waktu ke waktu yang tidak diganggu oleh kegenitan jawaban dan keyakinan.
Ah, masa itu, kau hanya kau dan aku selalu aku.
Lalu filsafat yang baik hanya tinggal satu dua jeritan untuk menemukan puitika hidup. Maksudnya, hidup sebagai penjelmaan puisi, percakapan yang tak pernah selesai antara aku dan diriku, kegelisahan yang mencerahkan.
Aku menyebutnya puitika kegentaran Kierkegaard.
Oktober 2022
amato
.jpeg)
0 Komentar