Dari sedikit hal menakjubkan yang telah dilahirkan Karl Marx, aku selalu terpesona pada kemiskinannya yang terlalu. Di dalam kisahnya itu, tak ada yang lebih baik bagiku dari pilihannya untuk mengganti jatah makannya dengan rokok hanya agar dia bisa terus berpikir dan menulis.
Padaku, Marx lebih hidup sebagai vitalitas kegelisahan daripada hampir semua kepastian yang dia kira telah dia temukan. Padaku, Marx lebih hidup sebagai diri yang gelisah dalam mencari kebenaran.
Maka ketika kebenarannya menjadi seruan yang menggentarkan, aku belajar bahwa tak mudah melawan gagasan yang dilahirkan oleh mereka yang bersedia menukar kenyamanan hidup dengan kegelisahan. Dan Marx nyaris menjadi satu-satunya contoh terbaik.
Tapi, seperti pada Marx, kegelisahan adalah pilihan. Kau dilahirkan dengannya tapi kau bisa untuk tidak memilihnya. Karena, seperti setiap orang lainnya, kau selalu bisa untuk tidak menyapa dirimu agar bisa menjalani hidupmu sebagai upaya memenuhi waktu demi waktu dalam perjalananmu menuju mati – dengan ada yang terlupa.
Sesekali kau akan dicekam kegelisahan karena diri yang tercekik oleh gelap dalam hidupmu. Tapi kau selalu bisa melupakannya. Menghindari gelisah – mungkin dalam pelupaan dengan kesenangan-kesenangan remeh atau dalam keyakinan yang begitu membahagiakanmu.
Kegelisahan yang terlalu akan membawa kita pada ujungnya, bukan akhir perjalanan tapi semata saat untuk menarik napas, menghirup pengetahuan dari ribuan pertanyaan. Pada saat itu kita akan menemukan diri dalam berbagai ejawantahnya.
Marx, yang memilih kegelisahan daripada kesenangan remeh atau keyakinan palsu, menemukan dirinya dalam gagasan yang marah. Gagasannya boleh jadi benar boleh jadi keliru, itu tidak penting bagiku. Karena apa yang penting bagiku dari seorang Karl Marx adalah pilihannya untuk gelisah.
Oktober 2022
amato

0 Komentar