MENCATAT BUNUH DIRI

MENCATAT BUNUH DIRI

Di luar takdir evolusi, tak ada alasan yang cukup masuk akal bagi kita untuk terus bertahan hidup. Jangankan saat kita berada di titik derita paling buruk, kita bahkan tak punya alasan untuk terus hidup saat kita berada di puncak dunia. Itulah kenapa aku begitu mengagumi orang-orang arif seperti Yukio Mishima dan Kurt Cobain. Aku bisa menambah daftar ini dengan lebih banyak lagi nama manusia luar biasa, seperti Vincent van Gogh atau Virginia Woolf.

Ketika kesadaran hanya tinggal titik cahaya yang paling ujung dari kegelapan dan hidup yang tak urung bermakna dukkha, artinya derita bahkan dalam tawa kita yang paling lepas. Ketika kebenaran tersingkap sebagai limbur pengetahuan yang terus dibayangi kekosongan hakikat; das ding an sich dari mimpi ketunggalan kita. Ketika tubuh membusuk dan wajah-wajah menjauh. Bunuh diri akan tampak sebagai keindahan di akhir upacara menjadi manusia.

Dalam satu pemikiran yang konsisten atas hidup sebagai seremoni mengada, bunuh diri merupakan ujung yang nyata dari penolakan kita atas kesia-siaan hidup yang tidak pernah kita minta. Kita dilahirkan sebagai omong kosong lalu tumbuh dewasa dalam waktu yang tidak selalu kita harapkan, dengan cara yang tidak selalu kita inginkan, dan sekian pembenaran yang tidak selalu kita pahami. Kita berbuat ‘kebaikan’ hanya karena ada sekian banyak orang tolol lainnya seperti kita yang bersepakat untuk menganggap itu sebagai kebaikan.

Semua itu disebut guruku sebagai senjakala berhala.

Senjakala berhala adalah waktu bagi kita untuk mengulang segala nilai, termasuk nilai dari pertanyaan yang tak pernah diajukan tapi dengan begitu bernafsu hendak kita jawab; atas nama hidup yang, entah bagaimana, terasa layak untuk kita jalani. Senjakala berhala adalah hardik bagi hidup seperti itu, hidup yang tak pernah kita uji tapi kita jalani seolah layak. Senjakala berhala adalah masa bagi kita untuk tahu bahwa berhala paling agung yang selama ini kita sembah adalah nilai hidup yang tak bernilai apapun kecuali daging busuk dalam kebahagiaan menabung kematian.

Dan malam, setelah senja tanpa nilai untuk disembah, adalah keindahan yang hanya bisa kita sambut dengan bunuh diri sebagai satu-satunya cara untuk memberi nilai pada hidup kita yang, bagaimanapun juga, tak pernah punya nilai, setidaknya, bagi diri kita sendiri. Bunuh diri adalah pilihan untuk jadi abadi bagi diri kita sendiri. Cara yang paling artistik untuk mengacungkan jari tengah bagi dunia dan kehidupan yang telah menipu kita sepanjang hayat.

Aku telah memikirkan kemungkinan bunuh diri sebagai pilihan yang mengharukan sejak pertama kali aku melihat diriku lewat mataku sendiri. Itu adalah momen yang sulit untuk diulang kecuali kita mampu meninggalkan semua nilai yang pernah kita yakini sebagai yang terbaik. Guruku mengajarkan aku untuk menciptakan nilaiku sendiri. Tapi daripada menghabiskan waktu dengan mencipta nilai, aku lebih suka pada gagasan untuk menghentikan segala penciptaan. Caranya sederhana, dengan menghentikan segala aku.

Lalu disitulah hubunganku dengan bunuh diri menjadi tidak lagi sederhana. Siapa yang bilang hidup ini indah? Siapa yang bilang bahwa kau punya sesuatu untuk menjalani hidup dalam cara yang kau pilih? Siapa yang bilang bahwa di ujung sana ada cahaya; kau boleh menamakannya kebahagiaan, cinta, dan semua omong kosong sejenis. Siapa yang bilang bahwa kau harus terus hidup; mempertahankan semua yang kau miliki di dalamnya seperti setiap hewan melata lainnya? Siapa yang bilang bahwa segala-gala adalah sekali untuk selamanya?

Tak ada apapun di luar hidup, demikian kata guruku.

Maka bunuh diri pun hanya satu jawaban dari sekian banyak jawaban lain atas pertanyaan yang tak pernah diajukan itu. Artinya, persoalan kita bukan terus hidup atau berhenti tapi merayakan hidup sebagai kenyataan sekaligus kebenaran yang menjelaskan aku dalam caraku sendiri. Menciptakan nilai-nilaiku sendiri adalah memeluk takdir keberadaanku dengan cinta yang tak lekang oleh ketololan seluruh umat manusia. Aku tak harus menyembah apapun, bahkan diriku sendiri. Bunuh diri, dalam kerangka amor fati ini, adalah absurditas penyembahan diri. 

Dalam arti ini, bunuh diri bisa menjadi sebuah kekalahan teologis yang telak. Mengusir tuhan dari tahtanya dan, tanpa malu, ganti bertahta. Bunuh diri adalah seruan teologis humanisme atas kegagalannya menghancurkan tahta berhala dan kemudian menjadi berhala yang baru. Bunuh diri, dalam kerangka pikir ini, adalah keindahan menjadi manusia di hadapan ketiadaan berhala tapi, pada saat yang sama, hanya akan jadi bermakna jika kita telah mencapai senjakala berhala, termasuk dan terutama senjakala berhala kemanusiaan. 

Aku bukan manusia, kata guruku, aku adalah dinamit.

Guruku menuntaskan pestanya dalam kegilaan. Pada bagian-bagian terbaik dari ajarannya, aku menemukan kegilaan sebagai cahaya di ujung sana. Tapi itu adalah persoalan lain yang membutuhkan catatan lain. 

Bis später.

Oktober 2022

amato

Posting Komentar

0 Komentar