MENCATAT HIDUP

MENCATAT HIDUP

Kita mungkin keliru dalam memahami derita sebagai ciri hakiki kehidupan hingga kita mungkin keliru telah menunjuk kebahagiaan sebagai tujuannya. Kenapa? Karena, dalam dirinya sendiri, tak ada yang dinamakan hidup. Hidup (dalam ‘H’ besar) hanya agregat yang diandaikan dari hidup kita masing-masing. Sebuah gagasan yang tidak ada dalam dirinya sendiri. Maka, jika tak ada hidup dalam dirinya sendiri, bagaimana kita bisa bicara soal hakikat hidup? Apalagi soal tujuan hidup.

Tapi itu tidak berarti kita tidak boleh memilih suatu ideal sebagai tujuan hidup. Karena, pada akhirnya, memang hanya kita sendiri yang bisa memberi tujuan pada hidup yang kita jalani. Menerimanya sebagai ideal yang memberi kita hiburan akan makna menjadi ada-di-sana. Tak ada yang boleh menghalangi kita dari ikhtiar itu karena hanya dalam cara seperti itulah kita bisa menjalani hidup secara otentik.

Dan satu dari sekian bentuk tujuan hidup ideal yang selalu ingin kita kejar adalah kebahagiaan. Jadi mari kita bicara soal memilih kebahagiaan sebagai tujuan hidup. 

Pertama, apakah itu adalah pilihan otentik kita atau hanya ideal yang dicangkokkan dari luar ke dalam pikiran kita seperti kebanyakan ideal lain yang selama ini begitu kita yakini? Baiklah aku ingatkan lebih dulu bahwa, dalam catatan ini, aku tidak ingin membahas terlalu jauh gagasan tentang otentisitas pilihan yang begitu subtil ini. Di sini, aku hanya ingin memberi satu contoh pertanyaan sebagai peringatan, yaitu kenapa para politisi, yang tidak lebih pintar dari kita, bisa terus menipu kita? Jawabannya sangat sederhana, karena kita telah bersepakat dengan mereka untuk menjalani sebentuk kehidupan bersama yang tidak otentik.

Pertanyaan kedua soal kebahagiaan sebagai tujuan hidup, apakah ia layak menjadi tujuan hidup kita? Aku telah lama berpikir bahwa, lebih dari kebanyakan ideal lain yang telah ditanamkan di dalam kepala (dan dada) kita, kebahagiaan adalah salah satu dari beberapa omong kosong besar peradaban umat manusia. Konsekuensinya, memilih kebahagiaan sebagai tujuan hidup kita sama dengan memilih omong kosong besar untuk kita kejar. Meski demikian, aku tekankan sekali lagi, catatan ini tidak berminat untuk menghalangi siapapun mengejar omong kosong apapun. 

Bahkan, dalam satu lintas pikiran yang tidak begitu orisinal, aku cenderung percaya bahwa kita bisa membangun peradaban justru karena ada begitu banyak omong kosong yang telah diciptakan oleh para pendahulu kita di malam-malam mereka yang menakutkan, entah di bawah cahaya bulan atau di depan api unggun. Artinya, jika memang ada perlunya bagi kita untuk meruntuhkan peradaban ini dan membangun yang baru dalam satu gerak destruksi kreatif, maka kita harus memulainya dengan merinci semua omong kosong itu, besar atau kecil, dan membuangnya keluar dari kepala (dan dada) kita.

Ketiga, apakah kita benar-benar membutuhkan semacam tujuan bagi hidup kita? Jika hidup selalu hanya hidupku, apakah aku harus menghabiskan waktu dengan mengejar sesuatu di depan yang entah dari jangka hidupku? Ataukah aku hanya perlu, dari hari ke hari, bahkan detik ke detik, menjalani hidupku dan, jika mungkin, menikmati setiap prosesnya tanpa harus diganggu oleh hasrat untuk mengejar apapun yang entah di ujung sana. 

“Jika kau masih mengejarnya, maka kau belum menemukannya,” demikian kata orang-orang arif di tanah Hindustan.

“Lalu bagaimana?”
“Apa maksudmu ‘bagaimana’?”
“Bagaimana jalan keluar dari semua persoalan yang kau ajukan itu?”
“Jalan keluar apa?”

Tidakkah kau capek mencari jalan keluar? Pahami saja hidupmu sebagai semata hidupmu, rebut itu, lalu jalani dalam cara yang kau anggap pantas. Dan ingat, aku bertanya, selalu bertanya, bukan karena mencari jawaban tapi untuk menghentikan jawaban. Berhentilah membaca catatan ini dan akan kau lihat betapa dirimu telah berlimbur jawaban; tenggelam dalam kematian sebelum jasadmu berkalang tanah. Karena, seperti kata guruku, “Jawaban sudah mati.”

Oktober 22

amato

Posting Komentar

0 Komentar