Filsafat apa yang paling berbahaya di dunia? Neoplatonisme Plotinian yang dibaca lewat Nietzsche oleh Jung.
Pertama, kita akan menemukan “kebenaran-kebenaran” yang membingungkan dalam Neoplatonisme, seperti para filsuf dan mistikus dari dunia lama telah menemukannya. Lalu kita akan terpesona dan, dalam kebingungan yang memutarbalikkan segalanya, kita akan menggunakan Nietzsche untuk mencari jalan keluar. Sedangkan semua itu kita lakukan sebagai Jung. Terma bagi kegilaan yang sempurna; ultimate esotericism.
Kedua, setelah keluar dari kabut – sebentuk pengalaman spiritual Jungian – kita akan menemukan tiga jalan. 1) Hermetis: as above so below (sebagaimana di atas begitu juga di bawah). Dari atas ke bawah, sebuah kosmologi magis; dari bawah ke atas, sebuah psikologi mistis. 2) Teosofis: there is no religion higher than truth (tidak ada agama yang lebih tinggi dari kebenaran). Jawaban bagi apa yang keluar dari batas adalah melampaui bahkan peristiwa keluar batas itu sendiri. 3) Okultis: do what thou wilt (lakukan apa yang kau kehendaki). Apa yang kau kehendaki? Apa itu kehendak-mu? Kenapa ‘kehendak’? Kenapa ‘–mu’? Apakah itu kehendak? Apa itu kehendak? Siapa kau?
Ketiga, spekulasi Plotinus menjadi abstraksi Nietzsche dalam psikologi Jung. Ini adalah sebentuk estetifikasi atas pencapaian spiritual lewat kontemplasi. Bersifat lebih imajinal daripada rasional. Tapi tetap dijaga oleh momen-momen argumentatif untuk tidak membuka peluang bagi munculnya keyakinan dogmatis. Keraguan akan menjadi obor tapi kita telah berpindah dari dualitas ego (baik-buruk, benar-salah) ke proses yang terus menerus dari luapan energi intuitif sebagai bentuk transendensi.
Keempat, tubuh adalah rumah Tuhan, tulis Rasul Paulus dalam Perjanjian Baru. Ini menjelaskan prosesi ilahiah dalam tuntunan. Kita akan menemukan apa yang telah terlepas dari tuntunan dalam imajinasi Nietzschean bahwa tubuh adalah Tuhan yang telah mati. Dari situ, beberapa bagian dari kebingungan akibat pesona mungkin akan terlampaui. Disebut mungkin karena selalu tersedia alternatif bagi kebingungan yang baru. Kita tidak berada dalam ilusi jalan yang kokoh tapi kehendak untuk percaya sebagai afirmasi atas hidup dalam tragedi. Itu yang menjelaskan keterpesonaan sebagai syarat.
Lalu titik demi titik menjadi kemustahilan. Kau tidak akan berjalan di atasnya. Kau tidak akan meniti arus-arus pikiranmu sendiri. Sebagaimana kau juga tidak akan menapaki jalan yang telah “mereka” sediakan untukmu. Dan itu adalah pemberontakan tubuh demi diri tanpa kerisauan ego. Pemberontakan yang menjelaskan kegilaan sebagai perjalanan menemukan jiwa. Upaya yang tidak mengenal takut untuk berhadapan dengan ‘bayang’ sebagai konsekuensinya.
Dan dalam perjalanan itu, Jetsun Dolma, kau akan paham kenapa Siddharta mengajarkan Tantra dan Yesus pertama menampakkan dirinya kepada Maria Magdalena.
amato

0 Komentar