TENTANG MENULIS

TENTANG MENULIS

Apakah menulis adalah mengubah kehidupan, gagasan, perasaan, apapun yang kita indrai, lengkapnya segalanya, fakta ataupun khayalan, ada maupun tiada, ke dalam kata? Bukan. Menulis adalah menciptakan segalanya menjadi baru di dalam kata-kata. Menulis bukan memaparkan, menggambarkan, segala sesuatu sebagaimana adanya, tapi mengubahnya menjadi sebagaimana harusnya. Menjadi sesuatu yang sebelumnya tidak dilihat, tidak diketahui, orang darinya. Menulis adalah sebuah proses meditasi di dalam kata-kata untuk menemukan sunyata di dalam segala hal.

Ketika Kant bilang bahwa manusia tidak bisa mengetahui hakikat apa yang ada di dalam sesuatu pada dirinya sendiri, aku tahu apa yang membedakan antara semata ada dengan menjadi ada: sunyata. Hakikat segala sesuatu adalah kekosongannya.

Maka, aku katakan padamu, menulis adalah upaya menemukan kekosongan segala. Bukan dengan memikirkannya, seperti Kant dan seluruh sejarah jalan pikiran umat manusia, tapi dengan menyerahkannya pada kata-kata. Membuatnya hadir, di sini dan di kini, lewat kata-kata. Menulis bukan mencatat tapi memperkatakan. Artinya, memberi kata pada ada. Dan, dengan cara itu, kau akan menyingkap hakikat ada dan menemukan kekosongannya. Knut Hamsun melakukannya, seperti juga Kafka, Orwell dan Gabriel Garcia Marquez.

Jangan jadi orang tolol yang belajar menulis dengan mempelajari puisi. Mencipta puisi bukan menulis. Itu adalah persoalan berbeda untuk urusan yang juga berbeda. Puisi yang baik diciptakan, puisi yang buruk dituliskan. Menulis dengan baik akan melahirkan prosa yang baik dan puisi yang buruk. Tapi jika ada yang bisa kau pelajari dari puisi sebagai seorang penulis, maka itu adalah pemahaman bahwa, di dalam puisi, kata-kata tidak berurusan dengan apapun kecuali dengan dirinya sendiri. Bagi seorang penulis, ini adalah wawasan untuk mencintai apa yang kita punya sebagai penulis: kata-kata.

Puisi akan mengajarkan kita, para penulis, cara menghormati kata-kata dengan memberinya jalan untuk menemukan segala dan menyingkap hakikat mereka tanpa direcoki oleh pikiran kita yang seringkali naif, lamban, kacau, dan tidak cukup meyakinkan. Tapi, berbeda dengan puisi, di dalam tulisan, kata-kata harus hadir untuk menghadirkan dirinya sebagai yang lain, entah itu peristiwa, gagasan, perasaan, atau apapun juga. Artinya, kata-kata tidak dimaksudkan untuk menjadi dirinya sendiri, tapi menjadi yang lain.

Kembali pada Knut Hamsun, lapar adalah lapar tapi bukan semata peristiwa fisiologis ketika seseorang membutuhkan makanan. Di dalam perayaan kata-kata Knut Hamsun, lapar adalah sebuah dimensi lain dari apa yang membuat seorang manusia menjadi manusia. Di dalam prosa Knut Hamsun, lapar adalah peristiwa yang begitu sederhana sehingga kita membutuhkan pemahaman seluruh umat manusia untuk bisa menggambarkannya; peristiwa sunyata.

Kita tidak bisa memahami lapar di dalam tulisan Knut Hamsun hanya dengan memahami ceritanya, tapi dengan menghadiri setiap perjamuan kata-kata yang digelarnya. Itulah menulis yang sesungguhnya. Itulah yang dilakukan Jorge Luis Borges lewat cerpen-cerpennya dan Eduardo Galeano di dalam semua prosanya, untuk menyebutkan beberapa nama di antara sedikit penulis jenius sejenis.

Oktober 2022

amato

Posting Komentar

0 Komentar