Yang bisa mengatakan 'tidak' cuma perempuan. Demikianlah tuhan negatif dari dunia lama diganti di dunia baru dengan tuhan lelaki yang bersifat positif, afirmatif. Bangsa Yahudi, seperti kebanyakan bangsa dari dunia lama, menyadari itu dan dengan diam-diam menyimpannya dalam memori esoteris mereka. Kabbalah menyebutnya Ein Sof, negasi atas negasi yang membawa pikiran kita pada totalitas sejarah tak berakhir.
Demikian pula kita kehilangan perspektif akan yang-tiada. Menggantinya dengan sepenuhnya ketiadaan dan terkurung di dalamnya lewat moralisasi pada skala biner yang-baik dan yang-buruk, lelaki dan perempuan.
Kekosongan, yang-tiada, ke-tidak-an, menghilang dalam cara bagaimana kita membaca diri sendiri di dalam oposisi itu. Menghantuinya dengan negasi palsu dari apa yang telah lebih dulu kita afirmasi. Seperti menukar perempuan dengan lelaki, pelacur dengan pendeta, kata dengan gagasan, puisi dengan kefanaan.
Sesuatu yang dengan begitu saja kita hadirkan ke permukaan, seandainya itu absah pun tak pernah akan berbentuk keberadaan positif tanpa dibayangi oleh negasi. Tapi bukanlah negasi itu sendiri yang menjadi kata akhirnya melainkan ke-tidak-an segala. Dimulai oleh 'tidak' yang membayangi segala, ditengahi oleh 'peniadaan' yang mengabsahkan segala, diakhiri oleh 'tiada' yang memaklumkan kemutlakan kosong. Beberapa orang menyebutnya nihilisme. Meminjam kearifan leluhur kita, aku menyebutnya Suwung: aku yang menjadi aku tanpa aku.
Dunia yang berakhir pada kiamat adalah dunia lelaki. Di dunia perempuan, tak ada akhir bagi realitas; sematerial apapun ia.
Pertama, karena yang-perempuan bukan negasi atas yang-lelaki tapi afirmasi terhadap ke-tidak-an. Dalam peta aritmatis, perempuan bukan (bukan)-lelaki tapi titik nol, yang-kosong.
Kedua, yang-kosong tak pernah berakhir. Ia adalah perlawanan yang terus menerus, ironi bagi kearifan yang lupa mengeja kebungkaman dalam ketakjuban.
Ketiga, bahkan materialitas tak akan terjangkau kefanaan tetapi semata meniada, menjadi tiada dalam yang-kosong. Kita seharusnya tertarik pada permainan imajinatif kata 'material' dengan 'maternal' yang memberi isyarat akan keibuan materi dan penyingkirannya dari dogma moral budak dunia lelaki.
Keempat, apa itu akhir?
Yang bisa mengatakan 'tidak' cuma perempuan. Persoalannya, kita sudah terlalu lama kehilangan perempuan, negasi itu, elan perlawanan atas nama kemutlakan yang-kosong, vulva.
September 2022
amato

0 Komentar