MARAH TANPA WAJAH

MARAH TANPA WAJAH

Apa yang tersisa bagiku dalam hidup yang tak akan lama lagi hanyalah kemarahan. Entah bagimu. Segala sesuatu yang mestinya begitu saja apa adanya tetiba berubah menjadi segala masalah yang harus kita atasi. Hidup yang tidak jadi mudah hanya karena kita harus tetap hidup. Melangsungkan karakter dasar kita sebagai binatang melata di puncak rantai makanan, yaitu bertahan hidup sebagai manusia.

Menemukan kekosongan sebagai jawaban atas apapun pertanyaan yang telah dan akan kita ajukan memang bisa begitu menenangkan. Tapi menyadari kediaman sebagai kemustahilan pilihan sungguh sering meruntuhkan bangunan kewarasanku. Apa yang tak terucap bisa diucapkan puisi tapi apa yang harus diucapkan sungguh hanya akan menyemburkan caci maki.

Lebih dari sering aku telah mengangkat muka dan membuka mata hanya untuk menyaksikan impianku luruh satu demi satu tanpa pernah tahu kenapa aku [kita] harus punya mimpi. Ketololan apa yang telah membenturkan kepalaku ke dinding peradaban yang begitu ngotot untuk menjelaskan hidup lebih dari batas kematian? Membuat kita menghukum diri dengan kenangan dan berupaya membebaskannya dengan harapan, lalu mati bahagia dengan sia-sia.

Aku marah karena dilahirkan dan harus hidup dalam komedi tragis sebagai satu dari entah sampai kapan dalam hitungan waktu semesta. Maksudnya usia sebagai manusia. Hitungan setiap tarikan napas sebagai prosesi menuju mati. Kematian tidak membuat hidup jadi niskala atau sia-sia tapi hanya cara semesta membuang sampah. Dengannya, hidup justru berpotensi jadi begitu indah.

Persoalannya, kita adalah Joker yang bermimpi jadi Batman. 

Orang-orang yang mampu membungkus wajah mereka dalam topeng badut telah maju sepuluh langkah. Orang-orang yang berhasil menemukan diri mereka tertawa tragis di tengah kehidupan telah maju seratus langkah. Orang-orang yang berhasil melawan para penindas mereka telah maju seribu langkah. Dan orang-orang yang menarikan derita hidup di tengah kekacauan dunia telah menjadi manusia atas. 

Adapun mereka yang masih bermimpi melayang-layang dalam kegelapan malam untuk menyelamatkan tatanan, norma dan segala yang sejenis itu, tak hanya akan menemukan wajah mereka terbungkus dalam topeng badut yang tak lucu tapi juga membangun ilusi tentang cara mencipta makna yang tidak pernah ada. Mereka tak akan pernah mampu melihat keindahan hidup oleh kematian.

Joker bukan orang baik yang jadi jahat karena ketidakadilan atau apapun konsep kosong sejenis yang pernah kita ciptakan. Joker adalah orang bodoh yang jadi cerdas karena dia mampu melihat hidup dengan rasa marah tanpa wajah. Dan kita hanya tak mampu melakukan apapun yang bisa kita lakukan sebagai Joker karena kita telah dididik untuk bermimpi jadi Batman.

Beberapa orang menyebutnya ilegalisme, sebentuk anarkisme yang menggentarkan tatanan. Aku sendiri lebih suka menyebutnya efek koersif negara dalam wujudnya yang paling hegemonik. Maksudnya, perlawanan langsung atas legalitas kekerasan negara dengan mengklaim kekerasan yang sama. Itu membikin jerih.

Negara akan menyebutku kriminal untuk apa yang bisa mereka lakukan secara legal. Bahkan mereka akan menyebutku teroris jika perlawananku bisa menyentuh saraf hegemonik mereka. Itulah kenapa perlawanan dengan kekerasan selalu butuh topeng. Entah topeng badut seperti Joker atau sekadar penutup wajah seperti Subcomandante Marcos. 

No face no case – karena kemarahan itu (seperti juga kemarahanku) memang tak pernah punya wajah.

November 2022

amato

Posting Komentar

0 Komentar